Weekly post

  • Menjadikan alun-alun Tulungagung sebagai taman kreativitas

    Seperti inilah suasana alun-alun Tulungagung, atau yang dikenal dengan sebutan Taman Kusuma Wicitra. Kesan asri, hijau, rindang, dan  menyejukkan akan terucap dalam hati setiap orang yang singgah di sini. Hampir setiap hari libur atau malam panjang, alun-alun ramai pengunjung. Sekedar santai, atau sedang melakukan aktivitas lain seperti olah raga, bermain, atau pun berlatih sesuatu.
    Saya hanya membayangkan, alangkah senangnya seandainya orang yang berkunjung ke tempat ini tidak hanya sekedar kongkow-kongkow, menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih untuk bersantai sambil cuci mata menikmati pesona taman ini, tetapi juga diarahkan agar mereka dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih produktif dan bermanfaat bagi orang lain sesuai dengan potensi dan kreativitas yang mereka miliki.
    Caranya dengan menyediakan beberapa sarana penunjang yang memungkinkan mereka (pengunjung) dapat mengekspresikan segala potensi dan kreativitas yang dimilikinya di tempat ini.Dan itu harus melibatkan campur tangan pemerintah daerah setempat dan ihak-pihak terkait yang berkepentingan.
    Untuk mengakomodir mereka yang punya potensi di bidang IT dan melek teknologi, perlu dibangun fasilitas hotspot gratis dan beberapa perangkat komputer lengkap dengan segala acessories yang dibutuhkan, sehingga orang yang datang ke alun-alun tujuannya sambil nge-net, pada menenteng laptop atau komputer tablet, atau yang tidak punya laptop bisa menggunakan fasilitas komputer yang tersedia di sana.
    Dengan demikian, alun-alun tidak hanya sekedar taman yang untuk dinikmati keindahannya, melainkankalau bisa juga menjadi ajang tongkrongannya mereka-mereka yang punya ide-ide cemerlang dan kreatif untuk selanjutnya saling berbagi ilmu dan sharing pengetahuan satu sama lain dan bila perlu didorong untuk berlomba mengembangkan atau mengelola sebuah project teknologi informasi semacam website, media teleconference yang dapat memungkinkan warga dapat menjalin komunikasi dengan kerabat sedang berada di luar daerah atau di luar negeri (seperti TKI/TKW) dengan ditampilkan pada layar lebar kaya “Nobar”,  atau bentuk teknologi informasi yang inovatif lainnya yang sekiranya dapat  bermanfaat bagi  masyarakat serta dalam rangka  mempromosikan Tulungagung di dunia maya.
    Untuk anak-anak yang hobi musik, theater, nge-band, perlu disediakan panggung hiburan yang dapat dipergunakan untuk mementaskan kebolehannya sambil untuk menghibur masyarakat yang mengunjungi alun-alun. Segala sarana dan prasarana yang diperlukan semuanya disediakan secara gratis oleh dinas terkait yang mebidanginya. Anggaplah semua biaya yang dipergunakan untuk membiayai pementasan tersebut, sebagai bentuk pengeluaran pemerintah setempat dalam rangka menyediakan layanan publik yang menghibur dan mendorong kreativitas seni anak-anak muda di Tulungagung.  Pengeluaran pemerintah menjadi tidak sia-sia karena dipergunakan untuk memberikan hiburan kepada warga sekitar, dan ekpresi anak-anak muda kita menjadi lebih terarah ke hal-hal yang lebih positif dan bermanfaat.
    Satu lagi, anak-anak muda yang berbakat mengajar, atau punya latarbelakang kependidikan apapun dan punya naluri mengajar, atau siapalah yang kepengin mengabdikan dirinya untuk berbagi ilmu dengan anak-anak muda yang lainnya, khususnya yang sudah putus sekolah, ada baiknya jika mereka diberdayakan. Buat semacam sekolah/kursus secara terbuka, beri kesempatan orang-orang berbakat untuk sharing ilmu kepada anak-anak lain yang kurang beruntung, Dinas terkait tinggal menyedikan sarana-prasrana penunjangnya, seperti papan tulis, komputer, proyektor, alat-alat peraga yang diperlukan untuk mengajar. Anak-anak yang berbakat direkrut untuk menjadi pematerinya/pengajarnya, dan mereka diberikan honor sepantasnya sebagai bentuk penghargaan atas sumbangsihnya mengajarkan anak-anak yang lain yang belum punya kesempatan melanjutkan ke sekolah formal. Anak-anak kurang mampu atau yang putus sekolah  ditawarkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan paket pelatihan ketrampilan, pendidikan singkat atau pelatihan lainnya yang sekiranya bermanfaat untuk membekali mereka, mengembangkan pengetahuan mereka, agar kelak bisa mandiri. Kegiatan tersebut bisa diselenggarakan di ruang terbuka di area Taman Kusuma Wicitra atau memanfaatkan ruangan-ruangan tertutup disekitar alun-alun seperti ruang aspirasi yang berada di kompleks DPRD atau di Balai Rakyat  agar tidak terganggu dengan kebisingan pengunjung yang lainnya.
    Coba kalau pemikiran seperti di atas bisa diwujudkan, orang yang datang ke alun-alun bisa diarahkan untuk hal-hal yang lebih positif, lebih produktif, dan berfikir kreatif. Mereka datang kesana tidak hanya untuk sekedar cuci mata, nongkrong, ngerumpi ngalor ngidul atau melakukan aktivitas-aktivitas  yang kurang bermakna. Dengan sedikit sentuhan saja, alun-alun kebanggaan warga dan pemda Tulungagung ini nantinya bukan tidak mungkin akan menjadi ajang untuk mengasah ilmu, mengasah kreativitas dari anak-anak yang berbakat, punya dedikasi untuk mengabdi dan berbagi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyarakat yang lain. Tentu tidak terlalu sulit jika ada kemauan untuk mewujudkannya. Tulungagung tentunya punya banyak anak-anak berpotensi dan berbakat di luar sana.  Jika mereka tidak diberikan kesempatan dan diberdayakan untuk ikut memikirkan masa depan Tulungagung, akan sangat disayangkan.
    Saatnya para anak muda Tulungagung mengekspresikan ide-ide cemerlang  yang kalian miliki, untuk berbagi sesuatu yang akan bermanfaat untuk masyarakat lain dan memajukan kota kita tercinta, Tulungagung.
    Jadikan alun-alun kita, sebagai tempat lesehannya orang-orang yang berbakat mengekspresikan potensi yang dimilikinya dan membagikan kepandaiannya untuk kebaikan bersama, orang-orang yang ingin belajar serta memiliki orientasi jauh ke depan orang-orang yang mampu  menelorkan ide-ide cemerlangnya, dan bermimpi mewujudkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat buat orang lain, khususnya buat membangun masyarakat Tulungagung.
    Salam Guyub Rukun
    (Dimuat ulang  dari blog pribadi  http://mimpitulungagung.blogspot.com/)
    foto-foto koleksi pribadi…



    >> kompasiana
  • Angkringan, dari Jogja ke Tulungagung


    Kemunculan tiga warung kaki lima "angkringan" di Kota Tulungagung mendapat sambutan antusias dari masyarakat sekitar.

    Meski belum menimbulkan efek "keramaian" yang fenomenal, kehadiran tiga angkringan atau lebih dikenal dengan sebutan "warung sego kucing" itu cukup menarik perhatian banyak pihak di Kota Marmer.

    "Rasanya seperti sedang di Yogyakarta lagi. Faktanya, masih banyak pengunjung angkringan yang menyampaikan respek mereka terhadap keberadaan warung yang menjadi salah satu ikon atau ciri khas kehidupan sosial di daerah sepanjang Solo-Yogyakarta tersebut.

    Selain di jalan raya jurusan Tulungagung-Kediri, dua warung angkringan lain teridentifikasi Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru dan di jalan lingkar Tulungagung-Trenggalek, tepatnya di Desa Boro, Kecamatan Ngantru.

    Tidak hanya gerobak angkring terbuat dari kayu jati yang menjadi ciri khas angkringan Yogyakarta yang didatangkan secara khusus ke Tulungagung, tetapi hampir seluruh ornamen, peralatan, bahkan seluruh menu makanan dibuat sama persis dengan produk aslinya.

    Satu-satunya yang membedakan antara angkringan yang ada di Jawa Tengah dengan yang sekarang ada di Tulungagung adalah menu minuman kopi.

    Angkringan di daerah Jawa Tengah yang masyarakatnya memang tidak memiliki tradisi "ngopi", biasanya sajian kopi dibuat dalam gelas berukuran jumbo atau semijumbo, dengan kwalitas rasa yang rendah.

    Sementara warung angkringan yang saat ini ada di Tulungagung, sajian kopi disuguhkan kepada pembeli dalam wadah gelas berukuran kecil dengan kwalitas rasa lebih baik, mengikuti selera rasa masyarakat lokal yang memang memiliki tradisi "ngopi" atau "nyethe" setiap hari. 


    >> seputartulungagung
  • Kerajinan Lantai Marmer warna Hitam (Andesit)

    Lantai marmer yang terbuat dari batu andesit ini berwarna hitam. Sangat unik dan mewah. Marmer Tulungagung yang bewarna hitam ini banyak sekali diminati orang karena keindahannya.

    Lantai marmer ini merupakan produk khas dari Tulungagung. Sudah sampai mancanegara karena memang kualitas dan keindahannya tak bisa diremehkan. Lantai marmer ini tak hanya unik dan mewah, tapi juga memiliki sifat yang sama dengan produk lantai marmer sebelumnya, yaitu membuat ruangan menjadi lebih sejuk dan nyaman karena sifat alami batu alam.
  • Sejarah Kerajinan Marmer


    Pada waktu Sekolah dulu saya masih teringat ketika mengikuti lomba karya Tulis Ilmiah Pelajar seKabupaten Tulungagung, aku menulis tentang Karya Tulis Ilmiah bidang sosial ,yakni tentang "Sejarah Perkembangan kerajinan marmer di Desa Campurdarat dan sekitarnya" sehingga pada waktu itu aku memperoleh juara satu sekabupaten Tulungagung, mengalahkan sekitar 25 sekolahan lainnya yang cukup bergengsi dikota kecilku....saya ingat-ingat saja..kalau ada yang salah mohon diluruskan...

    Sejarah perkembangan marmer di Tulungagung diawali dengan ditemukannnya lokasi pertambangan marmer oleh para penjajah Hindia Belanda sekitar tahun 1934, Lokasinya adalah di sekitar desa Besole,Kecamatn Besuki.Pada waktu itu sejarah Kota Tulungagung mencatat wilayah ini sebagai " Underdistrict Wajak" dan dulu sudah sering tercatat bahwa pertambangan Marmer itu letaknya di Desa Wajak Tulungagung,sehingga ada kalanya orang lawas menyebut bahwa desa penghasil marmer itu adalah desa Wajak.Setelah terjadi pemekaran sekitar tahun 1972, Desa Besole ini menjadi bagian tersendiri dan ikut dalam Kecamatan Besuki, demikian juga beberapa desa-desa lain di Kecamatan Campurdarat dan sekitarnya , membentuk kecamatan tersendiri,dan bukan lagi termasuk dalam " Underdistrict Wajak" jadi kalau anda adalah orang Kelahiran dibawah tahun 1972 selalu mengatakan bahwa Tambang marmer diTulungagung itu terletak di " desa Wajak "

    GENERASI PERTAMA
    Pada waktu tahun 1934 itu Hindia Belanda mendirikan sebuah peroesahaan ...kayak persero atau BUMN saat ini,namanya saya lupa...akhirnya berkembang-berkembang sampai ditahun 1970-an berganti nama IMIT singkatan Industri Marmer Indonesia Tulungagung...ini adalah perusahaan marmer pertama di daerah Tulungagung.
    Kemudian industri ini berkembang sebagai dampak disekitar pabrik, yakni pemanfaatan limbah pabrik kala itu,berupa butiran-butiran marmer yang disebut sebagai "traso" diskala usaha perumahan saja. Traso ini dibuat dari butiran-butiran kecil marmer yang berukuran dibawah 1 CM saja.Pada waktu itu traso dimanfaatkan sebagai campuran penghias dari semen putih, yang dibentuk menjadi berbagai macam kerajinan rumah tangga, seperti pot bunga besar, bahan lantai dan dinding,makam atau kijingan, bak mandi kotak, asbak , batu nisan dan lain-lain. Perkembangan awal kerajinan traso ini tercatat beberapa nama sesepuh antaralain : Mbah Sakijo Karsoen, Mbah Liyanto,Mbah Soekarno ( Ini kakek Saya ...) Mbah Soekarni..Mbah Wagiran Jombor....dan sebut saja ini sebagai generasi pertama...dari perintis usaha kerajinan marmer di Tulungagung, khususnya desa Gamping dan sekitarnya...Selain dari kerajinan traso ini, juga berkembang dengan pesat adalah pengolahan batu Gamping...pernah dengan " Batu Gamping Campurdarat?" ini adalah semacam bahan bangunan pada waktu itu sebagai pengganti semen saat ini,yakni sebagai adonan perekat batu-batu pondasi bangunan sekitar tahun 1970-1990an...sekarang tinggal sedikit sekali masyarakat yang ,mempergunakan bahan bangunan " batu Gamping " ini.Sedangkan pada tingkat pengolahan marmer kala itu masih sangat sederhana dan mempergunakan tegnology manual saja...yakni dengan tatah baja hitam dan palu saja...jadi untuk membuat sebuah asbak diameter 20 CM saja misalnya ...memerlukan waktu kurang lebih 2-3 hari..sangat melelahkan memang...tapi para perintis kerajinan ini secara gigih dan pantang menyerah menurunkan ketrampilan mereka kepada anak-anak cucu mereka.Kejayaan generasi ini juga ditandai dengan dikenalnya produk kerajinan mereka keseluruh kota-kota besar diIndonesia,sehingga pada zaman pemerintah ORDE BARU beberapa kali memberikan bimbingan-bimbingan dan bantuan teknis pengembangan kerajinan marmer.
    GENERASI KEDUA
    Perkembangan pesat tegnology pengolahan kerajinan marmer ini generasi kedua ini terjadi sekitar tahun 1978-sampai dengan tahun 1985,Tercatat kala itu beberapa nama yang sempat sukses diera ini antaralain munculnya pengrajin marmer "SERBA USAHA" ..."BATU ANTIK,BINTANG ANTIK" ( Ini trah keluarga saya ),BATU PUALAM,JEMBATAN BATOE ..." silih berganti usaha ini jatuh bangun seiring perputaran roda nasib Perusahaan masing masing....kemudian generasi ini diteruskan oleh beberapa nama perusahaan . Pada generasi ini ditandai dengan mulai dikenalkan oleh pemerintah kala itu,yakni tegnology bubut batu, dan gergaji batu besar.Para pengrajin saat sudah mulai pandai berinovasi dengan kerajinan mereka, yakni dengan membuat berbagai kerajinan yang berbentuk. vas bunga kecil,asbak bubut,kinangan,poci teh, dan jenis-jenis meja marmer bubutan ,pada waktu itu maksimal diameternya hanya 50- 60 CM saja.Muncul pula pada generasi ini nama-nama lainyang tak kalah hebatnya dalam berbisnis dan membuka peluang pasar..dan pada awal generasi ini telah muncul dan berdatangan buyer-buyer asing untuk kerajinan marmer, dan saat itu usaha kerajinan marmer Tulungagung mulai dikenal pasar Luar negeri.
  • Kerajinan Batik Majan

    Kerajinan
    Batik Majan
    Berawal dari sejarah, dulunya Tulungangung dikenal dengan nama Bonoworo. Namun sejak berkembangnya kerajaan Majapahit yang memperluas wilayah kekuasannya. Adipati Kalung yang saat itu menjabat sebagai adipati di wilayah Bonorowo enggan untuk tunduk kepada Majapahit. Hingga akhirnya adipati mampu ditaklukan dan wilayah Bonoworo menjadi milik kerajaan Majapahit. Hingga saat itu, para prajurit dan keluarganya banyak yang tinggal di Bonoworo dan mengenalkan batik sebagai kesenian. Sejak saat itulah, berkembang pula kesenian batik yang hingga kini menjadi salah satu sentra industri di wilayah Tulungagung. Bahkan, beberapa desa di wilayah ini telah menjadi desa wisata batik, seperti Desa Sembung dan Desa Majan.
  • Kesenian Reog Tulungagung

    reog-tulungagung
    Reog Tulungagung merupakan gubahan tari rakyat, menggambarkan arak-arakan prajurit Kedhirilaya tatkala mengiringi pengantin “Ratu Kilisuci“ ke Gunung Kelud, untuk menyaksikan dari dekat hasil pekerjaan Jathasura, sudahkah memenuhi persyaratan pasang-girinya atau belum. Dalam gubahan Tari Reog ini barisan prajurit yang berarak diwakili oleh enam orang penari.
    Yang ingin dikisahkan dalam tarian tersebut ialah, betapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, betapa berat beban perbekalan yang mereka bawa, sampai terbungkuk-bungkuk, terseok-seok, menuruni lembah-lembah yang curam, menaiki gunung-gunung, bagaimana mereka mengelilingi kawah seraya melihat melongok-longok ke dalam, kepanikan mereka, ketika “Sang Puteri“ terjatuh masuk kawah, disusul kemudian dengan pelemparan batu dan tanah yang mengurug kawah tersebut, sehingga Jathasura yang terjun menolong “Sang Puteri“ tewas terkubur dalam kawah, akhirnya kegembiraan oleh kemenangan yang mereka capai.
    Semua adegan itu mereka lakukan melalui simbol-simbol gerak tari yang ekspresif mempesona, yang banyak menggunakan langkah-langkah kaki yang serempak dalam berbagai variasi, gerakan-gerakan lambung badan, pundak, leher dan kepala, disertai mimik yang serius, sedang kedua tangannya sibuk mengerjakan dhogdhog atau tamtam yang mereka gendong dengan mengikatnya dengan sampur yang menyilang melalui pundak kanan. Tangan kiri menahan dhogdhog, tangan kanannya memukul-mukul dhogdhog tersebut membuat irama yang dikehendaki, meningkahi gerak tari dalam tempo kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat. Demikian kaya simbol-simbol yang mereka ungkapkan lewat tari mereka yang penuh dengan ragam variasi, dalam iringan gamelan yang monoton magis, dengan lengkingan selompretnya yang membawakan melodi terus-menerus tanpa putus, benar-benar memukau penonton, seakan-akan berada di bawah hipnose.
    Busana penari adalah busana keprajuritan menurut fantasi mereka dari unit reog yang bersangkutan. Di Tulungagung dan sekitar, bahkan sampai di luar daerah Kabupaten Tulungagung, sekarang sudah banyak bersebaran unit-unit reog sejenis, dan mereka memiliki seleranya masing-masing dalam memilih warna. Unit-unit yang terdiri dari golongan muda usia, biasanya memilih warna yang menyala, merah misalnya.
    Sebuah unit reog dari desa Gendhingan, Kecamatan Kedhungwaru, Kabupaten Tulungagung, beranggotakan orang-orang dewasa, bahkan tua-tua. Mungkin karena kedewasaannya itu mereka sengaja memilih warna hitam sebagai latar dasar busananya, sedang atribut-atributnya berwarna cerah. Busana itu terdiri atas:
    1. Baju hitam berlengan panjang, bagian belakang kowakan untuk keris. Sepanjang lengan baju diberi berseret merah atau kuning, juga di pergelangan.
    2. Celana hitam, sempit, sampai di bawah lutut. Di samping juga diberi berseret merah memanjang dari atas ke bawah.
    3. Kain batik panjang melilit di pinggang, bagian depan menjulai ke bawah. Sebagai ikat pinggang digunakan setagen, kemudian dihias dengan sampur berwarna.
    4. Ikat kepala berwarna hitam juga, diberi iker-iker (pinggiran topi) tetapi berbentuk silinder panjang bergaris tengah 3 cm, dililitkan melingkari kepala. Warnanya merah dan putih.
    5. Atribut-atribut yang dipakai:
      • kacamata gelap atau terang;
      • sumping di telinga kanan dan kiri;
      • epolet di atas pundak, dengan diberi hiasan rumbai-rumbai dari benang perak;
      • sampur untuk selendang guna menggendong dhogdhog;
      • kaos kaki panjang.
    Busana yang dikenakan oleh unit reog dari golongan muda usia, tidak jauh berbeda, hanya warna mereka pilih yang menyala, disamping hiasan-hiasan lain yang dianggap perlu untuk “memperindah“ penampilan, misalnya rumbai-rumbai yang dipasang melingkar pada iker-iker. Dalam pada itu pada kaki kiri dipasang gongseng, yaitu gelang kaki yang bergiring-giring. Tentang gamelan yang mengiringi dapat dituturkan sebagai berikut. Keenam instrumen dhogdhog, sebangsa kendhang atau ketipung, tetapi kulitnya hanya sebelah, yang ditabuh oleh penarinya sendiri, terbagi menurut fungsinya: dhogdhog kerep, dhogdhog arang, timbang-timbangan atau imbalan, keplak, trentheng dan sebuah lagi dipukul dengan tongkat kecil disebut trunthong. Di luar formasi ini ditambah dengan tiga orang pemain tambahan sebagai pemukul kenong, pemukul kempul, dan peniup selompret. Kenong dan kempul secara bergantian menciptakan kejelasan ritma, dan selompret membuat melodi lagu-lagu yang memperjelas pergantian-pergantian ragam gerak.
    Berbeda dengan Reog Tulunggung yang ada di desa Gendhingan, pada reog sejenis di desa Ngulanwentah, Kabupaten Trenggalek, si penabuh kenong tidak mengambil tempat kumpul bersama kedua rekannya penabuh, melainkan ikut di arena, walaupun tidak menari, hanya mondar-mandir, atau berjalan keliling, atau menyelinap di antara keenam penrinya, sembari memukul kenong yang diayunkan ke depan dan ke belakang. Ia pun mengenakan busana serupa dengan busana penari, hanya dengan warna lain, dan tanpa iker-iker pada ikat kepalanya.
    Lagu-lagu pengiringnya dipilih yang populer di kalangan rakyat, misalnya Gandariya, Angleng, Loro-loro, Pring-Padhapring, Ijo-ijo, dan lain-lain. Terdapat kecenderungan pada reog angkatan tua, (khususnya yang ada di desa Gendhingan), untuk menggunakan irama lambat dan penuh perasaan, yang oleh angkatan mudanya agaknya kurang disukai. Mereka, angkatan muda ini, lebih senang menggunakan irama yang “hot”, sesuai dengan gejolak jiwanya yang “dinamik”. Dalam hal ini AM Munardi menuliskan tanggapannya sebagai berikut:
    Legendanya tarian itu mengiring temanten. Memang peristiwa ritual kita pada masa lampau tidak terlepas dari existensi tari. Sampai sekarang Reog Kendhang (= Reog Tulungagung, S.Tm.) juga sering ditampilkan orang dalam kerangka pesta perkawinan atau khitanan.
    Dalam perkembangan akhir-akhir ini kemudian dipertunjukkan dalam pawai-pawai besar untuk memeriahkan hari-hari besar nasional. Untuk kepentingan yang akhir inilah kemudian orang membuat penampilan tari Reog Kendhang identik dengan “drum-band”. Maka gerak-gerik yang semula dirasa refined dan halus, cenderung dibuat lebih keras dan cepat. Derap-derap genderang ditirukan dengan pukulan-pukulan dhogdhog. Terompet bambu-kayu semacam sroten itu pun ditiup dengan lagu-lagu baru. Akibatnya musik diatonis itu pun dipaksakan dalam nada-nada pelog pentatonis.
    Dalam timbre yang tak mungkin berkualitas sebuah drum-band modern, maka cara seperti itu menjadi berkesan dangkal. Pada suatu kesempatan menonton pertunjukan Reog Kendhang di Desa Gendhingan, Kecamatan Kedhungwaru, Tulungagung, maka terasa benarlah bahwa proses penampilan Reog Kendhang yang pada umumnya dipopulerkan oleh para remaja itu cenderung menuju pendangkalan.
    Penampilan oleh para penari golongan tua di desa tersebut terasa benar bobotnya. Geraknya yang serba tidak tergesa-gesa lebih memperjelas pola tari yang sesungguhnya cukup refined. Kekayaan pola lantainya terasa benar menyatu dengan lingkungan.
    Memperbandingkan Reog Kendhang di Gendhingan ini dengan Reog Kendhang para remaja pada umumnya menjadi semakin jelas adanya keinginan untuk tampilnya garapan-garapan baru, tetapi tidak dimulai dengan pendasaran yang kokoh. Ya, kadang-kadang orang terlalu cepat mengidentikkan arti “dinamika” dengan gerak yang serba keras dan cepat.
    Seperti halnya dengan rekannya Reog Dhadhakmerak di Ponorogo, maka sebagai tontonan rakyat, Reog Tulungagung (Reog Kendhang) pun tidak akan kehilangan peranannya sebagai penghibur atau pemeriah suasana di mana saja warga desa mempunyai hajat. Perkawinan, khitanan, kelahiran, tingkeban, bersih desa, musim panen, dan lain sebagainya. Mungkin sekarang tidak selaris dulu, sebelum musik pop berirama dangdut merajai pasaran dimana-mana Namun, pada hajat-hajat yang masih ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat sakral atau yang masih mempunyai sifat-sifat tradisional, kesenian reog masih diperlukan.
    Dalam perarakan pengantin misalnya, maka fungsi Reog Kendhang tidak saja sebagai pengiring yang memeriahkan suasana atau sekedar manghibur semata-mata, melainkan bahkan pun sebagai penjaga keselamatan mempelai laki-laki yang diarak. Mungkin ini sisa-sisa kepercayaan legendarik, bahwa reog dulunya merupakan sepasukan prajurit Kedhirilaya yang bertugas menjaga keselamatan sang pengantin “Ratu Kilisuci”. Kepercayaan itu menjadi naluri yang masih terus dipelihara, walaupun tinggal sepercik upacara simbolik belaka, atau hanya tiru-tiru. Tetapi yang jelas, apakah itu upacara atau pun tiru-tiru, tiap-tiap hajat selalu mengharapkan keselamatan, dalam hal ini terutama keselamatan perkawinan kedua mempelai tentunya. Jadi Reog berfungsi sebagai penolak bala, begitulah kira-kira.
  • Copyright © 2013 - MieKuah - All Right Reserved

    TULUNGAGUNG Online Nda.. Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan